Selasa, 18 Maret 2008

Bigrafi W.S. Rendra


Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir Solo, 7 November 1935) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu. Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo. Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya , tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat. Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an. “Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995). Untuk kegiatan seninya Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956); Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970); Hadiah Akademi Jakarta (1975); Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) ; Penghargaan Adam Malik (1989); The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati. Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti tak lama kemudian.

Karya Sajak/Puisi W.S. Rendra
Jangan Takut Ibu
Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
Empat Kumpulan Sajak
Rick dari Corona
Potret Pembangunan Dalam Puisi
Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!
Nyanyian Angsa
Pesan Pencopet kepada Pacarnya
Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
Perjuangan Suku Naga
Blues untuk Bonnie
Pamphleten van een Dichter
State of Emergency
Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
Mencari Bapak
Rumpun Alang-alang
Surat Cinta
Sajak Rajawali
Sajak Seonggok Jagung




http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018

Read more...

Biografi Widji Thukul


Widji Thukul, bernama asli Widji Widodo, lahir di kampung Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963 dari keluarga tukang becak. Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Pendidikan tertinggi Thukul Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari sampai kelas dua lantaran kesulitan uang. Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal.

Lalu muncullah peristiwa kekacauan 27 Juli 1996. Thukul, Budiman Sujatmiko, dan Pius Lustri Lanang menjadi buronan utama pemerintah. Hal ini cukup mengejutkan dan kurang jelas hingga sekarang, karena Thukul sesungguhnya bukan pada 'kaliber' kedua buronan yang lain. Artinya, Budiman dan Pius sudah jadi aktivis taraf nasional, sementara Thukul hanyalah seniman lokal yang potensi ancamannya pada pemerintah tak begitu besar. Sejak itu, Budiman ditahan, diadili, dan dipenjarakan; Pius diculik orangnya Tim Mawar, Kopassus (Kopassus saat itu dipimpin oleh Prabowo Subianto sebagai komandan) ; sedangkan Tukul hilang – konon juga dihilangkan oleh Tim Mawar Kopassus. Secara resmi, Thukul masuk daftar orang hilang pada tahun 2000.


Pada 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex. Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis korban penculikan yang terutama diduga didalangi oleh Jenderal Prabowo Subianto. April 2000, istri Thukul, Sipon melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Forum Sastra Surakarta (FSS) yang dimotori penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul "Thukul, Pulanglah" yang diadakan di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.
Prestasi dan penghargaan; 1989, ia diundang membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut. 1991, ia tampil ngamen puisi pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta). 1991, ia memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra.
2002, dianugerahi penghargaan "Yap Thiam Hien Award 2002". 2002, sebuah film dokumenter tentang Widji Thukul dibuat oleh Tinuk Yampolsky.


Karya Dari Pada Wiji Tukul
Dua kumpulan puisinya : Puisi Pelo dan Darman dan lain-lain diterbitkan Taman Budaya Surakarta.
Puisi: Bunga dan Tembok
Puisi: Peringatan
Puisi: Kesaksian



http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018

Read more...

Senin, 17 Maret 2008

Biografi Chairil Anwar


Chairil Anwar yang lahir di Medan, 26 Juli 1922 atau dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.

Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah memengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus.Tidak ada banyak diketahui mengenai orang-tuanya. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin). Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangikondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah sakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.


KARYA CHAIRIL ANWAR
1. Deru Campur Debu (1949)
2. Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
3. Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
4. "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk
5. Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
6. Derai-derai Cemara (1998)
7. Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
8. Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Karya yang diterjemahan ke dalam bahasa asing
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:

1. "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
2. "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
3. Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
4. "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
5. The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
6. The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
7. Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
8. The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)



http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018

Read more...

Biografi Kecil Dari Pada Endik Koeswoyo



Namaku Endik Koeswoyo, aku lahir di Wonosalam, sebuah desa kecil wilayah kabupaten Jombang. Kata Mak Tua (nenek tercinta Alm.), aku lahir dibawah pohon Jenkol –rumahnya kecil trus ada pohon jengkolnya-. Ketika aku mulai bisa mengingat, aku sudah besar, bisa jalan dan bisa berlari. Dulu seingatku, aku sekolah di SDN Wonosalam IV, sebuah Sekolah Dasar dilereng Gunung Anjasmara. Ketika itu setiap harinya aku jalan kaki, bersama kakak tercintaku Dear Dariyanto. Oh ya, aku Tiga bersaudara, Budi Rangga adalah kakak pertamaku, kakak keduaku adalah Dear Dariyanto, aku paling kecil. Sayangnya sejak kecil sampai tulisan ini aku tulis kami jarang sekali bisa berkumpul bertiga. Maklum, sejak aku berusia 3 bulan, Bapak dan Ibu sudah pisah ranjang, Ibu ke Kalimantan dan bapak ke Sumatra. Dulu, Mas Budi dan Mas Dear diasuh oleh salah satu kerabat di Blitar, aku sejak bayi ikut Mak Tua. Setelah kelas 1 SD Mas Dear diantarkan ke Jombang, dan hiduplah dia bersama aku dan Mak Tua. Aku Cinta Keluargaku yang terbelah ini. Jika berkumpul, aku sering diam dan diam, dadaku sesak karena aku takut berpisah. Dan aku tau itu pasti terjadi.

Tahun 1994 aku lulus Sekolah Dasar. Karena aku ikut Mak Tua sejak kecil, aku sempat putus asa karena takut tidak bisa sekolah, maklum, Mak Tua sudah Tua dan Janda. Sebagi Janda miskin yang membiaya dua cucunya adalah sebuah perjuangan yang berat. Satu yang aku suka dari begitu banyaknya ajaran dan petuah Mak Tua adalah kata-kata beliau; “Menjadi orang miskin itu lebih jauh dari dosa dan godaan setan”. Apapun maknanya, saya baru sadar bahwa ternyata masih banyak tetanggaku yang hidupnya lebih menyedihkan. Setelah dewasa nanti aku sadar kenapa aku dan ratusan tetanggaku masuk kedalam golongan keluarga miskin, ternyata aku hidup di Indonesia, nagara paling kaya akan kekayaan alamnya namun kekayaannya dikorup oleh hampir 99% pejabatnya. Luar biasa pintar pejabat itu ya?

Karena aku tergolong siswa yang cukup cerdas akhirnya aku dibantu oleh Keluarga Besar Sudijarsono, Dokter didesaku yang kemudian mencalonkan diri menjadi lurah dan yang kemudian lagi diturunkan karena dituduh korupsi. Terlepas benar atau tidaknya, Almarhum Pak Son adalah orang terbaik yang pernah aku kenal, semoga Allah menerima amal perbuatan beliau dan mengampuni segala dosa-dosa beliau serta keluarga yang ditinggalkan tetap dalam perlindungan. Mas Hery, Mbak Ratna dan Mas Agung adalah remaja-remaja yang selalu baik denganku, mereka putra dan putri dari pasangan pak Son dan Bu Son yang membiayai sekolahku dan Mas Dear. Dari keluarga inilah aku belajar menjadi orang kaya. Atas biaya dari keluarga Sudijarsono aku lalu melanjutkan SLTP N 1 Wonosalam dan lulus pada tahun 1996 dengan hasil memuaskan, tahun itu juga aku di jemput Ibu untuk melanjutkan sekolah di Banjarmasin.

Ibuku bernama Narti, sederhana dan cantik tentunya. Aku nggak habis pikir kenapa Ibu bisa menikah lagi dengan status di Surat Nikah adalah Perawan padahal sudah ‘Turun Mesin 3 Kali’. Aku tidak mau berpikir panjang tentang itu, aku hanya mau bilang kalau Ibuku memang cantik. Oh ya, sejak usia 3 bulan aku ditinggal oleh Ibu dan bapak, dan pada tahun 1994 Ibu pulang ke Jombang, itu kali pertama aku jumpa dengannya sejak usiaku 3 bulan. Singkat cerita aku diterima di SMU Negeri 2 Banjarmasin, sekolah paling elite yang pernah aku singgahi, bukan sombong Nem-ku ada diurtan nomer 3 dari ratusan pendaftar disekolah favorite yang dihuni keluarga kaya itu. Sayang, aku tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan disana. Aku memutuskan keluar dari SMU Negeri 2 Banjarmasin dengan berjuta penyesalan setelah 9 bulan menimba Ilmu di sana. Aku sempat beberapa bulan tidak pulang ke rumah setelah keluar sekolah, aku mengecewakan Ibu, Abah, Dek Mirna dan Dek Arif kedua adik tiriku.


Setelah beberapa bulan akhirnya aku pulang kerumah. Jiwaku berontak untuk pulang ke Jombang, kerumah Mak Tua dan hidup miskin. Tahun 1998 aku ikut bekerja dengan Abah Aban –Bapak Tiriku-. Aku bekerja di tengah hutan sebagai penambang emas liar. Disanalah aku terjangkit penyakitnya Naga Bonar yang terkenal itu –Malaria-. Setelah beberapa bulan hidup ditengah hutan aku memutuskan untuk pulang pada tahun itu juga. Mak Tua begitu bahagia menerima kembali. Tapi tidak, aku harus jadi orang pintar! Mak Tua bilang, “Kamu tIdak harus menjadi orang kaya, tapi jadilah orang di Kenang karena kebaikannya!” itulah petuah yang mengantarku untuk melangkahkan kaki menuju Pulau Sumatra. Awal tahun 1999 aku menjemput impain di tanah Lampung. Mimpi sekedar mimpi, besar atau kecil mimpi itu, hasilnya sama.Nol. Aku tidak mendapatkan mimpiku disana, setidaknya aku puas telah melihat dan bertemu dengan Mar Roni, pria yang telah mengukir jiwa ragaku. Sekolah adalah impianku, tapi tidak aku dapatkan disana. Sekolahnya terlalu jauh. bulan 9 tahun 1999 aku memutuskan untuk pulang kepelukan Mak Tua. Kemiskinan dan cara hidup orang miskin yang dialirkan oleh Mak Tua membuatku rindu. Aku haru sekolah! Teriak hatiku setiap saat. Dan aku memutuskan ke Blitar, di sana Mas Budi bekerja menjadi karyawan. Aku kesana, menemui Mas Budi dan ikut bekerja. keluarga Bapak sebenarnya orang terpandang di salah desa kota Blitar. Tapi aku dididik untuk mandiri oleh Mak Tua. Akhirnya aku mendaftar sekolah di SMU Negeri 1 Sutojayan pada tahun 2000 dan aku ada diperingkat teratas dari ratusan pendaftar, sudah kubilang aku miskin, tapi aku tidak bodoh! Namun kegembiraan itu hilang ketikakudengan kabar Dek Mirna meninggal. Beberapa teman menganjurkanku untuk mengajukan beasiswa, tapi aku inget pesan Mak Tua “Keringatmu adalah kepuasan hidupmu!”. Begitu banyak petuah darinya memang. Ya Mak Tau benar, jika aku terlalu manja, jalanku kedepan masih panjang. Dan aku lulus pada tahun 2003 dengan hasil tidak memuaskan. Maklum aku tidak punya waktu belajar sama sekali diluar sekolah. Pagi aku bangun jam 5, bersih-bersih rumah keluarga pak Sitin, orang yang aku ikuti dan dia adalah bos dari Bakso Arema yang punya los dasaran didepan alun-alun Lodoyo pinggiran kota Blitar. Pulang sekolah aku langsung jualan bakso dan pulang jam 10 malam. Itulah rutinitasku selama 3 tahun. Dengan gaji bersih Rp. 180.000,-/bulan aku bisa menyelesaikan sekolahku pada tahun 2003. Tanpa bantuan biaya dari siapun aku bisa menjadi almunis 3 Bahasa SMU Negeri 1 Sutojayan Blitar.

Tahun 2003 aku hijrah ke Yogyakarta, ada dua alasan kenapa aku memilih kota ini. Alasan pertama karena Yogyakarta adalah konta seniman. Alasan kedua, karena ada Dek Indah, seseorang yang mengisi hatiku sejah tahun 2001. Dengan meminta restu dari Mak Tua aku melanjutkan studi ke AKINDO. tahun 2003 adalah tahun pertama dimana ku meminta bantuan pada Ibu untuk menambah biaya pendaftaran kuliah yang masih kurang. Aku juga minta kiriman uang ke Bapak tahun itu. Akhirnya aku masuk Akademi Komunikasi Indonesia pada tahun 2003 mengambil jurusan Broadcasting Radio Televisi. Di kota inilah aku bertemu dengan seniman-seniman muda, salah satunya adalah Teguh T-koes Wicaksono Alm. (Meninggal tahun 2004) dari T-koes aku banyak belajar mengolah kata. Aku dan dia membuat Cerita Mingguan Sanggar Misteri darikem Indonesia yang dibagi-bagikan secara gratis dibeberapa kampus. Dan sebelum dia meninggal aku sudah menulis beberapa naskah Novel. Dan beberapa bulan setelah kematiannya yang dramatis akhirnya aku mendapatkan kontrak dari penrbit untuk dua naskahku, Untuk Dinda (sampai saat tulisan ini dipublikasikan belum diterbitkan dengan alasan menunggu waktu yang tepat) dan Cowok Yang Terobsesi Melati (Diterbitkan tahun 2005). Sebelumnya aku juga sempat membuat novel Indie dengan judul Psikodramatis (saat ini tersedia dalam bentuk novel elektronik dengan judul yang sama dan dapat diakses di http://pionbanget.blogspot.com/ lini penerbitan independen online).

Tahun 2003 hingga tahun 2004 adalah masa tersulit dalam hidupku. Tanpa siapapun disini, aku harsu bertahan hidup dan membiayai kuliahku. Disinilah kau sadar, susah juga jadi orang miskin. Sehari makan 2 hari tidak, dan aku mengalaminya. Aku tidak ingin pulang, aku harus bertahan. Dan aku harus bertahan. Aku jadi teringat beberapa penulis idolaku; Chairil Anwar, Lord Byron, Hanore de Balzac, Robert louis Stevenson, Edgar Alan Poe, Boris Pasternak dan James Joice mereka-mereka adalah penulis yang dikenal dunia karena keindahan bahasanya dan ternyata mereka menulis dari ketidak mampuan secara finasial dan dalam belenggu kemiskinan yang luar biasa.

Tahun 2005, ketika novel pertamaku diterbitkan aku begitu senang dan bangga. Aku membelikan kalung emas untuk Mak Tua dari hasil royalti novel tersebut. Tahun 2007 dua novelku terbit bersamaan. Tersesat Disurga dan Cinta Selebar Kerudung, sayang kebahagiaan itu hilang dengan kepulangan Mak Tua ke-Surga. Doaku selalu menringimu Mak! Hidupku masih tetap sama hingga tulisan ini aku psting, aku masih tergolong sebagai keluarga miskin dan aku bangga jadi orang miskin. Sekarang aku lebih tenang karena aku bekerja paruh waktu sebagai Creative Project sebuah Event Organiser dengan gaji total Rp. 390.000,-/bulan diluar tunjangan, event dan bonus. Saat ini aku sedang mengambil gelar S1 Komunikasi di Universitas Terbuka, Mak Tua bilang kalau aku harus jadi sarjana. Aku masih terus menulis dan menulis, entah sampai kapan. Namun aku amsih ingat pesan T-Koes, BERHENTI BERKARYA BERARTI MATI!

KARYA CETAK

1.Novel: Psikodramatis: Novel Indie 2003 (kini tersedia dalam bentuk elektronik)
2.Antalogi Puisi: Untuk Nona: Indie 2003
3.Kumpulan Cerpen dan Puisi: Minggu Pagi: Dibuat khusus untuk korban tsunami Aceh
4.Novel Remaja: Cowok Yang Terobsesi Melati: Diva Press Yogyakarta 2005.
5.Novel Islami: Cinta Selebar Kerudung: Sketsa Yogyakarta 2007.
6.Novel Islami: Tersesat Di Surga: Sketsa Yogyakarta 2007.
7.Komik: Kumpulan Komik Pendek Memorilibia Gempa: Arus Kata Pers 2007.
8.Buku Sejarah Popular: Siapa Memanfaatkan Letkol Untung?: Media Presindo 2007.

9. Novel Islami: Hijrahnya Cinta : Pustaka Fahima 2008.

KARYA EBOOK

  1. Ebook Antalogi Puisi: Ketika Cermin Taklagi Jujur: Penerbit Pion 2008
  2. Ebook : Miskin Itu Kewajiban: Penerbit Pion 2008
  3. Ebook : 10 Langkah Mudah Jadi penulis untuk Pemula: Penerbit Pion 2008
  4. Ebook: Love From My Heart : BBB kelompok Penerbit Independen Online 2008
  5. Ebook : Kumpulan Puisi : Serambi Kerinduan: Penerbit Pion 2008
  6. Ebook: Kumpulan Cerepen : Detak dalam Detik : Penerbit Pion 2008
  7. Ebook: Psikodramatis : Sebuah Novel Surealis Ekspresive: Penervit Pion 2008




http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018

Read more...